Proyek P3-TGA di Kampung Gaga Kecil Disorot Warga, Diduga Tak Sesuai Spesifikasi dan Abaikan Keselamatan Kerja

Screenshot 20260730 1326412 Klik Pantura

Klikpantura.com Tangerang – Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air (P3-TGA) yang berlokasi di Kampung Gaga Kecil, Desa Gempolsari, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, menjadi sorotan masyarakat. Proyek yang didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.000.000 itu diduga dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis serta dinilai kurang memperhatikan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi proyek, ditemukan sejumlah hal yang menjadi perhatian. Di antaranya penggunaan material yang diduga tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), serta pemasangan batu pada saluran irigasi yang dilakukan tanpa terlebih dahulu mengeringkan aliran air. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kekuatan dan daya tahan bangunan dalam jangka panjang.

Selain itu, proses pencampuran material masih dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin molen. Sejumlah pihak menilai cara tersebut berpotensi memengaruhi kualitas hasil pekerjaan apabila tidak dilakukan sesuai standar teknis yang berlaku.

Screenshot 20260730 1326512 Klik Pantura

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku khawatir terhadap kualitas pembangunan saluran irigasi tersebut.

“Kami melihat langsung di lapangan. Kalau begini caranya, kami khawatir saluran irigasi ini tidak awet dan cepat rusak,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Menurut warga, saluran irigasi memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian masyarakat. Oleh karena itu, mereka berharap proyek tersebut dikerjakan dengan memperhatikan kualitas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para petani dalam jangka panjang.

Tak hanya soal kualitas konstruksi, proyek tersebut juga menuai perhatian terkait penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, para pekerja terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm proyek, rompi keselamatan, maupun sepatu kerja.

Screenshot 20260730 1326572 Klik Pantura

Kondisi ini dinilai berisiko terhadap keselamatan para pekerja mengingat pekerjaan konstruksi memiliki potensi kecelakaan kerja yang cukup tinggi.

“Di lapangan tidak terlihat ada pekerja yang menggunakan perlengkapan keselamatan kerja. Padahal penerapan K3 merupakan bagian penting dalam setiap pekerjaan konstruksi,” ungkap salah seorang warga.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan ketidaksesuaian spesifikasi pekerjaan maupun penerapan standar keselamatan kerja di lokasi proyek.

Masyarakat berharap pemerintah dan instansi yang berwenang dapat meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek tersebut. Dengan demikian, pembangunan yang bertujuan mendukung sektor pertanian itu dapat terlaksana sesuai spesifikasi, memiliki kualitas yang baik, serta menjamin keselamatan para pekerja dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *