Mengintip Kuliner Malam Pakuhaji: Kisah Hangat di Balik Sepiring Nasi Goreng Abah Unggah yang Tak Pernah Kehilangan Pelanggan

Screenshot 20260630 0707592 Klik Pantura

Klikpantura.com TANGERANG – Saat sebagian besar masyarakat telah terlelap menikmati istirahat malam, kehidupan di sudut-sudut Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, justru masih berdenyut. Di antara lengangnya jalan dan semilir angin dini hari, aroma harum bawang putih, kecap, serta bumbu rempah yang ditumis di atas api besar menjadi penanda bahwa masih ada roda perekonomian rakyat yang terus berputar.

Di kawasan inilah berdiri sebuah gerobak sederhana yang sudah akrab di kalangan warga dan para pencinta kuliner malam, yakni Nasi Goreng Abah Unggah. Bagi banyak orang, tempat ini bukan sekadar lokasi untuk mengisi perut, tetapi juga ruang berkumpul yang menghadirkan kehangatan di tengah sunyinya malam.

Berdasarkan pantauan langsung pada Selasa dini hari, 30 Juni 2026, sekitar pukul 01.45 WIB, gerobak Nasi Goreng Abah Unggah masih ramai melayani pelanggan. Meski waktu telah memasuki dini hari, silih berganti pembeli datang, mulai dari pekerja yang baru pulang, pengemudi ojek, hingga warga sekitar yang sengaja berburu hidangan hangat.

Gerobak sederhana itu tampak mencolok berkat hiasan lampu LED warna-warni yang mengelilingi etalase kaca. Di balik etalase tersusun rapi mi instan, telur, sayuran, dan berbagai bahan baku yang siap diolah sesuai pesanan pelanggan.

Screenshot 20260630 0708202 Klik Pantura

Di balik kesibukan tersebut, berdiri Atarmiji, atau yang akrab disapa Bang Iji, pemilik sekaligus juru masak Nasi Goreng Abah Unggah. Dengan jaket hijau bergaya kasual, topi merah, serta senyum ramah yang tak pernah lepas dari wajahnya, Bang Iji menyapa setiap pelanggan layaknya keluarga sendiri.

Kesibukannya tak dilakukan seorang diri. Sang istri, Yenni, setia mendampingi di balik gerobak. Dengan cekatan ia menyiapkan bumbu, merapikan pesanan, hingga membantu proses penyajian. Kekompakan pasangan suami istri ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang membuat pelanggan merasa nyaman.

Suara dentingan spatula yang menghantam wajan berpadu dengan kobaran api dari kompor bertekanan tinggi menjadi irama khas setiap pesanan yang dimasak. Bang Iji tampak lihai mengolah nasi goreng dengan teknik tradisional yang telah ia pertahankan selama bertahun-tahun.

Sesekali ia memecahkan telur, mengaduk nasi bersama racikan bumbu rahasia, lalu menambahkan aneka pelengkap hingga menghasilkan aroma yang mampu menggugah selera siapa pun yang melintas.

Di atas meja racik terlihat berbagai bumbu dapur, acar segar, kerupuk, saus pelengkap, hingga bahan tambahan lainnya yang siap dipadukan menjadi nasi goreng, mi goreng, maupun mi rebus dengan cita rasa khas yang telah dikenal pelanggan.

Konsistensi rasa inilah yang membuat banyak pelanggan tetap setia datang meski pilihan kuliner kini semakin beragam.

«”Makan malam seperti ini punya cita rasa tersendiri. Selain porsinya mengenyangkan, suasana saat menunggu masakan matang sambil berbincang dengan penjual memberikan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain,” ujar Denni, salah seorang pelanggan yang tengah menunggu pesanannya.»

Di tengah pesatnya pertumbuhan restoran modern dan layanan pesan antar berbasis aplikasi, keberadaan Nasi Goreng Abah Unggah menjadi bukti bahwa usaha kuliner kaki lima masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Harga yang bersahabat, cita rasa yang konsisten, pelayanan yang hangat, serta hubungan akrab antara penjual dan pelanggan menjadi modal utama yang membuat usaha mikro seperti ini tetap bertahan bahkan terus berkembang.

Lebih dari sekadar menjual makanan, Bang Iji dan keluarganya turut menjaga denyut ekonomi malam masyarakat Pakuhaji. Setiap porsi yang disajikan bukan hanya menghadirkan kelezatan, tetapi juga menjadi simbol semangat kerja keras, ketekunan, dan perjuangan pelaku UMKM dalam mempertahankan usahanya di tengah berbagai tantangan.

Bagi siapa saja yang melintas di kawasan jalan raya Pakuhaji, Sepatan saat larut malam, singgah di Gerobak Nasi Goreng Abah Unggah dapat menjadi pilihan yang tepat. Di balik kesederhanaannya, tersaji sepiring nasi goreng dengan rasa yang menggugah selera, pelayanan yang penuh keakraban, serta cerita perjuangan sebuah usaha kecil yang terus menyala di tengah sunyinya malam.

(Denni).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *