‎Mengubah Limbah Menjadi Berkah: Duta Potensi Pemuda DKI Jakarta Sukses Gelar “Eco-Preunership Lab” di Pondok Bambu.

IMG 20260703 WA0012 Klik Pantura

Klikpantura.com JAKARTA, 2 Juli 2026 – Persoalan sampah perkotaan masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Provinsi DKI Jakarta. Di tengah padatnya aktivitas megapolitan, volume sampah yang terus meningkat setiap harinya kerap membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menyadari krusialnya isu lingkungan tersebut, generasi muda yang tergabung dalam Duta Potensi Pemuda Indonesia Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah konkret melalui aksi nyata yang inovatif dan berkelanjutan. Inisiatif lingkungan bertajuk “Eco-Preunership Lab”  diselenggarakan di Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur Pada Kamis, (02/07/2026).

‎Program kerja kolaboratif ini diinisiasi langsung oleh dua Duta Potensi Pemuda Indonesia DKI Jakarta, yaitu Fahmiansyah (mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Bina Sarana Global) dan Sasikirana Syahrani Putri.

‎Guna memastikan program berjalan masif di tingkat akar rumput, pelaksanaan kegiatan ini dibantu penuh oleh tim fasilitator mahasiswa aktif ITB Bina Sarana Global yang terdiri dari Hanna Nandiya Pratiwi, Kafka Salma Aulia, Eka Aulia Hasanah, dan Helen Anggraeni Pranajuwita. Selain itu, aksi kepemudaan ini juga melibatkan elemen pelajar melalui peran aktif Ahmad Zainul, siswa SMAN 76 Jakarta Timur, sebagai ruang edukasi sebaya (peer-to-peer education) yang efektif.

‎Aksi lingkungan ini berpusat di wilayah RW 02 Kelurahan Pondok Bambu, dengan menyisir beberapa titik strategis secara serentak, meliputi RT 06, RT 10, dan RT 11. Pemilihan lokasi di lingkup Rukun Tetangga (RT) ini bertujuan agar edukasi yang diberikan dapat diterima secara lebih personal, intensif, dan langsung berdampak pada kebiasaan rumah tangga sehari-hari.

‎Kehadiran para Duta Pemuda dan tim mahasiswa di tengah pemukiman disambut dengan antusiasme luar biasa oleh kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta tokoh masyarakat setempat.

‎Secara garis besar, “Eco-Preunership Lab” mengintegrasikan dua pilar penting, yaitu kelestarian lingkungan (ecology) dan kewirausahaan (entrepreneurship). Fokus utamanya adalah memberikan edukasi dan praktik bersama mengenai tata cara mengelola sampah domestik agar memiliki nilai ekonomi (economic value), baik untuk skala individu maupun sebagai sumber pendapatan kolektif warga seperti kas PKK.

‎Fahmiansyah menjelaskan bahwa penanganan sampah dari hulu, khususnya dari dapur rumah tangga, merupakan kunci utama dalam mengurangi beban lingkungan.
‎”Kami ingin mengubah paradigma masyarakat terhadap sampah. Sampah bukanlah akhir dari sebuah siklus konsumsi, melainkan awal dari proses produksi baru jika dikelola dengan ilmu yang tepat. Melalui Eco-Preunership Lab, kami membuktikan bahwa menjaga bumi bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga,” ujar Fahmiansyah di sela-sela kegiatan.

‎Sejalan dengan hal tersebut, Sasikirana Syahrani Putri menegaskan pentingnya peran aktif kader penggerak di lingkungan keluarga untuk menyukseskan agenda keberlanjutan ini.
‎”Ketika ibu-ibu PKK dan warga di tingkat RT mampu mengolah limbahnya sendiri menjadi produk yang memiliki nilai jual, kita sedang bergerak bersama mewujudkan lingkungan yang bersih sekaligus ekonomi warga yang lebih berdaya,” tambah Sasikirana penuh semangat.

‎Bobot keunggulan dari program ini terletak pada metode pelatihannya yang bersifat praktik langsung (hands-on experience). Warga diajak langsung mempraktikkan tiga fokus pelatihan utama:

‎Pembuatan Eco-Enzyme: Memanfaatkan kulit buah dan sisa sayuran segar yang difermentasi dengan air dan molase (gula merah). Cairan multiguna yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai pembersih lantai alami, pupuk cair, hingga pembersih pestisida.

‎Sabun Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah: Mengolah limbah minyak goreng bekas melalui proses saponifikasi menjadi sabun cuci batangan yang aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga non-konsumsi, sekaligus mencegah pencemaran saluran air.

‎Kompos Organik dari Limbah Sayur: Menggunakan metode pengomposan sederhana skala rumah tangga yang tidak menimbulkan bau menyengat untuk menghasilkan pupuk padat berkualitas bagi tanaman di pekarangan warga.

‎Sasikirana berharap pelatihan ini tidak berhenti pada hari pelaksanaan saja. Dengan komitmen dari ibu-ibu PKK dan pendampingan berkelanjutan, produk-produk ekologis ini berpotensi besar diproduksi secara massal untuk meningkatkan pendapatan kas RT maupun unit usaha mikro warga.

‎Menambahkan pandangan tersebut, Fahmiansyah menggarisbawahi pentingnya aspek digitalisasi dan manajemen bisnis ke depan agar produk berbasis lingkungan ini bisa bersaing di pasar yang lebih luas.

‎Melalui langkah taktis di Kecamatan Duren Sawit ini, Duta Potensi Pemuda Indonesia DKI Jakarta bersama elemen mahasiswa telah memberikan cetak biru (blueprint) nyata tentang bagaimana pemuda hadir sebagai agen perubahan (agent of change) yang membawa solusi aplikatif bagi masyarakat. Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari tersebut ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan produk hasil karya kepada perwakilan pengurus RT setempat.,pungkasnya.

‎Red : RAS

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *