Klikpantura.com Tangerang Di tengah maraknya arak-arakan malam takbiran yang kian menyerupai logika visual ala Ogoh-ogoh, perayaan Idul Fitri di Indonesia menghadapi pergeseran makna: dari ekspresi spiritual menuju spektakel publik yang sarat sensasi, komodifikasi, dan kehilangan kedalaman religius.
Malam takbiran, yang dahulu identik dengan gema takbir sederhana dari masjid ke masjid, kini di banyak tempat berubah menjadi lautan manusia, konvoi kendaraan, dentuman sound system, dan parade visual yang mencolok. Jalanan menjadi panggung, dan takbir—yang seharusnya menjadi inti—sering kali tenggelam dalam hiruk-pikuk euforia.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan bentuk perayaan, melainkan indikasi pergeseran orientasi beragama. Idul Fitri, yang secara teologis merupakan momentum kembali kepada fitrah setelah proses panjang pengendalian diri, perlahan bergeser menjadi ruang ekspresi publik yang lebih menonjolkan aspek hiburan daripada kontemplasi.
Dari Sakral ke Spektakel
Dalam perspektif sosiologi modern, gejala ini dapat dibaca melalui konsep Society of the Spectacle, yang menjelaskan bagaimana kehidupan sosial semakin didominasi oleh tampilan visual dan representasi. Realitas tidak lagi dihayati, tetapi dipertontonkan.
Takbiran, dalam konteks ini, mengalami “spektakularisasi”: ia tidak lagi sekadar dzikir kolektif, melainkan berubah menjadi pertunjukan massal. Keberhasilan perayaan tidak diukur dari kekhusyukan, tetapi dari seberapa meriah, seberapa ramai, dan seberapa menarik untuk direkam dan dibagikan di media sosial.
Akibatnya, nilai sakral mengalami reduksi. Yang tersisa adalah simbol, bukan substansi.
Kemiripan yang Mengundang Pertanyaan
Di sejumlah daerah, muncul tren pawai dengan replika besar, ornamen kreatif, hingga figur-figur raksasa yang diarak keliling kampung. Secara visual, praktik ini mengingatkan pada tradisi Ogoh-ogoh di Bali, yang memiliki makna simbolik dalam konteks Hindu sebagai representasi energi negatif yang harus dinetralisir.
Masalahnya bukan pada kemiripan bentuk semata, melainkan pada kekosongan makna. Jika dalam tradisi aslinya, simbol memiliki landasan filosofis yang kuat, maka dalam praktik takbiran kontemporer, banyak elemen visual hadir tanpa narasi teologis yang jelas. Ia menjadi sekadar dekorasi, bukan representasi nilai.
Di sinilah letak kritik utamanya: ketika bentuk diadopsi tanpa makna, yang terjadi bukan akulturasi, melainkan imitasi kosong.
Komodifikasi dan Hasrat Viral
Perubahan ini juga tidak bisa dilepaskan dari logika ekonomi dan media. Perayaan keagamaan kini menjadi ruang kompetisi simbolik: antar kampung, antar komunitas, bahkan antar generasi. Siapa paling meriah, paling unik, dan paling viral.
Media sosial mempercepat proses ini. Takbiran tidak lagi hanya dirayakan, tetapi juga “diproduksi” untuk ditonton. Kamera menjadi bagian dari ritual, dan validasi publik—dalam bentuk likes, views, dan komentar—menjadi ukuran keberhasilan.
Dalam situasi ini, agama berisiko terjebak dalam komodifikasi: nilai-nilai spiritual diubah menjadi konten, dan ibadah menjadi performa.
Melemahnya Otoritas Nilai
Fenomena ini juga mencerminkan adanya kekosongan panduan. Otoritas keagamaan, baik formal maupun kultural, belum sepenuhnya mampu mengarahkan bagaimana ekspresi kegembiraan Idul Fitri dapat tetap selaras dengan nilai-nilai Islam.
Alih-alih menjadi penuntun, sebagian justru membiarkan, atau bahkan ikut larut dalam arus euforia. Akibatnya, masyarakat membangun tafsir sendiri—yang sering kali lebih dipengaruhi oleh tren daripada ajaran.
Padahal dalam Islam, kegembiraan bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun ia selalu dibingkai oleh adab, makna, dan tujuan. Tanpa itu, kegembiraan mudah berubah menjadi kelalaian.
Mengembalikan Arah Perayaan
Kritik terhadap fenomena ini bukan berarti menolak kreativitas atau ekspresi budaya. Justru sebaliknya, kreativitas perlu diarahkan agar memiliki makna, bukan sekadar bentuk.
Takbiran bisa tetap meriah tanpa kehilangan ruh. Pawai bisa tetap ada, tetapi diisi dengan pesan moral, lantunan takbir yang tertib, dan narasi yang menguatkan nilai keislaman. Ruang publik bisa menjadi tempat syiar, bukan sekadar hiburan.
Yang dibutuhkan bukan pelarangan, melainkan pengembalian orientasi.
Penutup
Idul Fitri adalah kemenangan—bukan dalam arti duniawi, tetapi spiritual. Ia adalah tentang kembali kepada kesederhanaan, ketulusan, dan kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhannya.
Ketika perayaan lebih sibuk menampilkan daripada menghayati, maka yang hilang bukan sekadar kekhusyukan, tetapi juga makna itu sendiri.
Jika tren spektakularisasi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi mendatang akan mengenal Idul Fitri bukan sebagai momen sakral, melainkan sekadar festival tahunan yang meriah—namun hampa.
(Setiawan Rois)







