Klikpantura.com **GRESIK** – Memasuki bulan Juni, kalangan Marhaenis kembali mengingatkan pentingnya menghidupkan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Bung Karno. Bagi mereka, Juni bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender, melainkan “Bulan Marhaen”, momentum untuk memperkuat semangat perjuangan rakyat kecil dalam mewujudkan keadilan sosial dan kemandirian bangsa.
Direktur YLBH Fajar Trilaksana, Andi Fajar Yulianto, menilai kondisi ekonomi yang saat ini diwarnai ketidakpastian menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat kecil. Kenaikan nilai tukar dolar yang menembus kisaran Rp17.800 per dolar AS, menurutnya, tetap berdampak pada kehidupan rakyat, meskipun muncul anggapan bahwa masyarakat kecil tidak membutuhkan dolar secara langsung.
“Situasi ini menunjukkan bahwa politik kebangsaan dan kerakyatan sedang dipertaruhkan. Jangan sampai muncul sekat antara kelompok masyarakat atas dan bawah, antara kota dan desa, yang berpotensi memecah persatuan bangsa,” ujarnya.
Menurut Andi, cita-cita kesejahteraan bersama yang berkeadilan sosial akan semakin sulit terwujud apabila tata kelola negara lebih berpihak pada kepentingan oligarki dibanding kepentingan rakyat banyak.
Ia menjelaskan bahwa Marhaenisme berakar pada Pancasila sebagai dasar filsafat yang mengedepankan prinsip Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Karena itu, setiap kebijakan yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnya pengangguran, maraknya pemutusan hubungan kerja, hingga bertambahnya angka kriminalitas, perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
“Di tengah berbagai persoalan tersebut, masyarakat kecil sering kali hidup dalam ketidakpastian dan rasa khawatir. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan cita-cita Indonesia yang aman, tenteram, dan sejahtera,” katanya.
Andi juga mengingatkan bahwa seruan “Merdeka” yang digaungkan Bung Karno sebelum kemerdekaan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diwujudkan secara nyata. Menurutnya, perjuangan kaum Marhaen saat ini masih berkaitan dengan upaya membebaskan diri dari berbagai bentuk ketidakadilan, termasuk persoalan penguasaan lahan dan maraknya praktik mafia tanah yang merugikan rakyat kecil.
Baginya, Bulan Marhaen harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk memastikan negara benar-benar hadir melindungi dan menyejahterakan rakyat. Tidak hanya melalui pembangunan bangsa dan karakter, tetapi juga melalui penguatan rasa persatuan, patriotisme, serta kecintaan terhadap tanah air.
“Nafas oligarki adalah musuh sosio-demokrasi karena menjauhkan cita-cita kesejahteraan bersama dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Melalui momentum Bulan Marhaen, Andi mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan demokrasi yang sehat, memperkuat gerakan kolektif, serta mengawal kebijakan publik agar berpihak kepada rakyat.
Ia juga mengutip pesan Bung Karno yang relevan hingga saat ini, “Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri yang akan berdiri kuat.”
Menutup pernyataannya, Andi menegaskan bahwa kemiskinan tidak cukup diatasi melalui bantuan sosial semata, melainkan melalui kebijakan yang mampu menghadirkan keadilan, rasa aman, serta kemandirian ekonomi bangsa.
“Cukup sudah kaum Marhaen menjadi objek statistik. Saatnya menjadi subjek yang ikut menentukan arah perjalanan republik,” pungkasnya.






