PW IPNU Banten Perkuat Pembinaan Remaja Lewat Program Ramadan Bahagia

IMG 20260301 WA0011 Klik Pantura

Klikpantura.com Serang — PW IPNU Banten memperkuat pembinaan remaja selama bulan suci Ramadan melalui pendekatan humanis dan program *Ramadan Bahagia*. Langkah ini dilakukan untuk menekan potensi kenakalan remaja hingga momen Lebaran.

Ketua PW IPNU Banten, M. Riziq Shihab, mengatakan fenomena tawuran, balap liar, hingga konvoi berlebihan menjelang sahur dan malam takbiran masih menjadi perhatian serius. Menurutnya, Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi dan hijrah, bukan diwarnai tindakan yang meresahkan masyarakat.

“Remaja tidak boleh hanya disalahkan. Mereka harus dirangkul, diberi ruang, dan dilibatkan dalam aktivitas yang membangun,” ujarnya.

Riziq menjelaskan, kenakalan remaja dipicu berbagai faktor, seperti lemahnya pengawasan, minimnya ruang ekspresi positif, hingga pengaruh lingkungan pergaulan. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan imbauan atau penindakan, melainkan perlu pembinaan yang menyentuh aspek emosional, sosial, dan spiritual.

Sebagai langkah konkret, PW IPNU Banten menguatkan kajian Ramadan sebagai ruang edukasi keagamaan dan diskusi terbuka bagi pelajar. Melalui kegiatan ini, para remaja diajak memahami nilai Islam yang *rahmatan lil ‘alamin* sekaligus pentingnya menjaga ketertiban sosial.

Selain itu, program *Ramadan Bahagia* juga diisi dengan kegiatan berbagi takjil. Para pelajar turun langsung ke masyarakat untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.

PW IPNU Banten turut mendorong kolaborasi dengan sekolah dan orang tua guna memperkuat pengawasan selama Ramadan hingga libur Idulfitri. Kampanye remaja anti kenakalan juga digencarkan melalui media sosial dan forum diskusi agar kesadaran kolektif terus terbangun.

Organisasi ini menyoroti potensi meningkatnya kenakalan remaja saat malam takbiran dan pasca-Lebaran, seperti konvoi liar, penggunaan petasan berlebihan, hingga gesekan antarkelompok. Hal tersebut dinilai dapat mencoreng suasana Idulfitri yang seharusnya damai.

“Kami ingin Lebaran menjadi momentum silaturahmi, bukan ajang unjuk kekuatan. Pembinaan harus berkelanjutan, tidak berhenti di pertengahan Ramadan. Harapannya, pasca-Ramadan dan Lebaran, kenakalan remaja tidak terulang dan karakter pelajar semakin baik,” kata Riziq.

Melalui gerakan *Ramadan Bahagia*, PW IPNU Banten berharap remaja tidak hanya menjadi objek pembinaan, tetapi juga subjek perubahan dan pelopor ketertiban di tengah masyarakat. Dengan begitu, Ramadan dan Lebaran dapat berlangsung aman, damai, dan penuh keberkahan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *